Muhasabah Dan ketakwaan

Orang yang memandang surga dan neraka, tidak mempunyai tujuan lain. Orang yang berusaha dan bertindak dengan cepat, berhasil, sedang pencari yang lambat dapat pula menaruh harapan; dan orang yang kekurangan amal menghadapi kehancuran di neraka. Di kanan dan kiri ada jalan-jalan yang menyesatkan. Hanya jalan tengah yang merupakan jalan yang benar. Pada jalan ini ada Kitab Abadi dan sunah Nabi SAWW. Darinya sunah tersebar dan kepadanyalah tempat kembali.
Orang yang mengaku (sebaliknya) runtuh, dan orang yang mengada-adakan kebatilan akan kecewa. Orang yang melawan kebenaran dengan wajahnya akan beroleh kehancuran
.
[i] Cukuplah kejahilan bagi orang yang tidak mengenal dirinya. Orang yang berakar kuat dalam takwa tidak binasa,[ii] dan perkebunan suatu kaum yang berdasarkan takwa tidak akan kehabisan air. Sembunyikanlah diri Anda dalam rumah Anda dan perbaikilah diri Anda. Taubat ada di belakang Anda. Orang hanya harus memuji Allah dan menyalahkan dirinya sendiri. •



[i] Dalam beberapa versi, kata-kata man abda shafhatahu lil haqqi halaku" (barangsiapa menentang hak dengan wajahnya maka celakalah ia) disusul kata-kata: "'inda jahalatin-nas". Dalam hal ini arti kalimat itu menjadi "orang tegak yang menghadapi kebenaran, mati dalam penilaian orang yang jahil".
[ii] Takwa adalah penamaan bagi hati dan jiwa yang dipengaruhi kebenaran Ilahi, sehingga jiwanya yang penuh takwa kepada Allah menambah ibadahnya kepada-Nya. Tidak mungkin hati akan penuh dengan takwa kepada Allah tanpa diterjemahkan ke dalam peribadatan dan amal saleh. Dan karena peribadatan dan penyerahan din memperbaiki hati dan membersihkan jiwa maka kebersihan hati bertambah dengan meningkatnya peribadatan. Itulah sebabnya maka takwa, dalam Al-Qur'an, kadang-kadang berarti takut, kadang-kadang berarti kebersihan hati dan jiwa. Dengan demikian firman Allah: "Wa iyyaya fattagun" (dan hanya kepada-Ku-lah karnu harus bertakwa, QS. 2:41), takwa berarti takut, sedang dalam ayat: "ittaqullah haqqa tugatihi" (Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya) (QS. 3:102), takwa berarti peribadatan dan ketaatan, dan dalam ayat Wa yakhsya-lāha wa yattaghi fa ulā'ika humul-fa'izun (Dan barang-siapa yang taal kepada Allah dan bertakwa kepuda-Nya, maka mereka itu adalah orang-nrang vang mendapM kemenangan) (QS. 24:52), takwa berarti kejernihan jiwa dan kebersihan hati.
Dalam hadis-hadis, takwa dibagi atas tiga tingkat. Tingkat pertama, ialah bahwa seseorang harus menurut perintah-perintah dan menghindari larangan. Tingkat kedua adalah menuruti hal-hal yang sunah (dianjurkan) dan menghindari hal-hal yang makruh atau tidak disukai. Tingkat ketiga, seseorang harus juga menghindari hal-hal yang dibolehkan bila ragu. Tingkat pertama adalah untuk orang biasa, yang kedua bagi orang yang mulia dan yang ketiga bagi orang yang berkemuliaan tinggi.
Tidak ada dosa bagi orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan vang rnereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) berlakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuak kebajikan. (QS. 5:93)
Amirul Mukminm mengatakan bahwa hanya amal yang didasarkan pada takwa yang dapal bcrtahan dan bahwa amal akan berkembang serta berbuah bila diairi takwa, karena ibadat hanya bermakna bila dilakukan dengan penyerahan diri. Allah berfirman:
"Apakah orang-orang yung mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepadu Allah, dan keridaan(-Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yung mendirikan bangunannva di tepi jurang yang runtuh, lulu bangunannya itu jaluh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka jahanam?" (QS. 9:109)
Dengan kata lain, tiap kepercayaan yang tidak berdasarkan pengctahuan dan keyakinan adalah seperti bangunan yang didirikan tanpa fondasi, tak akan kokoh, sedang amal tanpa takwa, adalah seperti tanaman yang layu karena kekurangan air.

Harapan Untuk Situasi

Kemudian daripada itu, sesungguhnya dunia ini telah memalingkan belakangnya dan memaklumkan perpisahannya, sementara dunia yang akan datang telah muncul ke depan dan memaklumkan mendekatnya ia. Sekarang adalah hari persiapan sedang esok adalah hari perlumbaan. Tempat yang dituju ialah syurga sedang tempat kembali adalah neraka. Tidak adakah seseorang yang akan bertaubat atas kesalahannya sebelum kematiaanya? Atau tidak adakah seseorang yang hendak berbuat kebajikan sebelum hari ujian?Ingatlah, anda berada di hari-hari harapan dan disebaliknya berdiri kematian. Barangsiapa beramal di hari-hari harapannya sebelum datang kematiannya, amalnya akan bermanfaat baginya dan kematiannya tidak akan merugikannya. Tetapi, orang-orang yang tidak beramal dalam masa harapannya sebelum datang ajalnya, amal-amalnya adalah sia-sia dan kematiannya adalah suatu kemudharatan baginya. Berhati-hatilah dan beramallah dalam masa ketertarikan sebagaimana anda berbuat dalam masa kengerian. Berhati-hatilah, saya belum melihat seseorang yang menghasratkan syurga tertidur, dan tidak pula seseorang yang berasa ngeri akan neraka terlelap.Ingatlah, orang yang baginya hak tidak bermanfaat, akan menderita sengsara dari kebatilan, dan orang yang tidak dikukuhkan oleh petunjuk akan terbawa oleh kesesatan ke arah kehancuran. Berhati-hatilah, anda telah diperintahkan untuk maju dan telah dibimbing bagaimana membekali perjalanan itu. Sungguh, hal yang paling menakutkan saya dan khuwatirnya tentang anda sekalian ialah mengikuti hawa nafsu dan berpanjangnya harapan. Berbekalkan untuk diri anda dari dunia ini yang akan menyelamatkan anda esok ( pada Hari Pengadilan ).

* Khutbah Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib as

Muhasabah dan Pengertian

Rendah Hati

  • Rendah Hati (tawadhu) adalah suatu kenikmatan yang tidak dimengertikan oleh orang yang berdengki.
  • Sombong terhadap orang-orang yang sombong adalah tawadhu itu sendiri.
  • Rendah hati termasuk salah satu cara mendapatkan kemuliaan.
  • Rendah hati membawa kepada keselamatan.
  • Tidak ada nasab (yang lebih mulia) seperti rendah hati.
  • Buah dari rendah hati adalah (mendapatkan) kecintaan.
  • Kerendahanhatian seseorang di saat dia memiliki kedudukan menjadi pelindungan baginya ketika dia mengalami kejatuhan.
  • Temuilah orang-orang ketika mereka butuh kepadamu dengan keceriaan dan kerendahanhatian. Maka, jika engkau terkena suatu musibah dan keadaan buruk menimpamu, lalu engkau bertemu dengan mereka, maka engkau telah aman dan terlepas dari bahaya kehinaan karena kerendahanhatianmu itu.
  • Orang-orang golongan atas, jika mereka terdidik, mereka rendah hati; dan jika mereka menjadi miskin, mereka menyerang.
  • Imam Ali as. berkata kepada seseorang yang memuji-mujinya secara berlebihan, sementara kesetiaannya kepada beliau diragukan, "Aku tidak seperti yang kaukatakan, dan 'di atas' apa yang engkau sembunyikan di dalam hatimu."
  • Orang yang rendah hati seperti jurang yang di dalamnya berhimpun air hujan dan air hujan lainnya, sedangkan orang yang sombong seperti bukit yang tidak menetap di dalamnya air hujannya dan air hujan yang lain.
  • Jika engkau telah melakukan segala sesuatu, maka jadilah seperti orang yang tidak melakukan apa pun. []

Penyucian jiwa

SEDEKAH

  1. Mohonlah (kepada Allah SWT) agar diturunkan-Nya rezeki dengan cara banyak bersedekah.
  2. Sedekah adalah obat yang manjur.
  3. Peliharalah iman kalian dengan bersedekah.
  4. Jika kalian jatuh miskin, maka berdaganglah dengan Allah Ta'ala dengan bersedekah.

Takutkan Dia

Tutoplah pintu jasmani dan akalmu terhadap segala sesuatu yang akan mengganggu hatimu, menghapuskan kepercayaanmu terhadap Allah, dan dengan terang-terangan mendatangkan kesedihan dan penyesalan pada hari Perhitungan dan rasa malu akan tindakan-tindakan buruk yang kamu lakukan.

Orang yang cermat pasti mempunyai tiga prinsip, iaitu ia harus mengabaikan kesalahan2 semua orang lain, ia harus menghindar dari upaya mengganggu mereka, dan ia harus menyeimbangkan antara kecaman dan pujian.

Akar rasa takut kepada Allah adalah dengan terus menerus memeriksa diri sendiri, benar dalam perkataan dan adil dalam perjanjian, meninggalkan segala hal yang meragukan, meninggalkan setiap kerusakan dan keraguan, memisahkan diri dari segala sesuatu yang tidak bersangkut-paut denganmu dan tidak membuka pintu-pintu yang tidak kamu ketahui bagaimana cara menutupnya. Jangan duduk bersama seseorang yang mengaburkan apa yang telah jelas bagimu, atau dengan seseorang yang menganggap enteng iman. Jangan pertanyakan pengetahuan yg tidak akan kamu pahami, dari siapa yg mengatakannya, putuskanlah hubunganmu dengan orang yang memutuskan hubunganmu dengan Allah Swt.[]

Niat D Hati

Orang yang mempunyai niat yang tulus adalah dia yang hatinya tenang; sebab hati yang tenang, yang terbebas dari pemikiran mengenai hal-hal yang terlarang, berasal dari upaya membuat niatmu murni untuk Allah dalam segala perkara.

Pada hari harta benda dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang suci. (QS Al-Syu 'ara [26]: 88-90)

Nabi Saw. bersabda,"Niat orang beriman itu lebih baik daripada perbuatannya," dan juga,"Perbuatan-perbuatan itu terjadi karena niat, dan setiap manusia akan memetik buah dari apa yang diniatkannya." Hamba Allah kerananya harus mempunyai niat yang tulus setiap kali dia berbuat atau diam, sebab dengan demikian dia tidak akan bertindak 'sembrono'. Orang-orang yang 'sembrono' telah ditegur oleh Allah Swt.:

Tidak, mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi jalan pikirannya dari binatang itu. (QS Al-Furqan [25]: 44)

Mereka itulah orang-orang yang alpa.(QS Al-A'raf [7]: 179)

Niat timbul dari hati, sesuai dengan kesucian pengetahuan. Ia beragam sebagaimana keyakinan juga beragam pada saat-saat yang berlainan dalam kekuatan dan kelemahannya. Keinginan untuk mementingkan diri sendiri dan nafsu dari orang-orang yang mempunyai niat tulus ditaklukkan oleh kekuatan dan pemujaan (ibadah) terhadap Allah dan kerendahan hati di hadapan-Nya. Kerana sifatnya, keinginannya dan hasratnya sendiri, ia menjadi tidak tenang, tetapi orang-orang tetap merasa tenang di tangannya.[]

Dari Kerana Mata

Tidak ada yang lebih menguntungkan dibanding menundukkan pandangan bagi seseorang, sebab penglihatan itu tidak ditundukkan dari segala hal yang dilarang Allah kecuali jika penyaksian akan keagungan dan kemuliaan itu telah sampai ke dalam hati.

Amir Al-Mu'minin 'Ali ibn Abi Thalib r.a ditanya tentang apa yang dapat membantu seseorang untuk menundukkan pandangannya. Beliau berkata, "Kepasrahan pada kekuasaan-Nya yang mengetahui segala rahasiamu. Mata adalah pancaran hati dan cerminan akal; karena itu tundukkanlah pandanganmu dari apa pun yang tidak disukai oleh hatimu dan dari apa pun yang dianggap oleh akalmu tidak patut."

Nabi Saw. berkata,"Tundukkanlah matamu dan kamu akan melihat keajaiban-keajaiban."

Allah Swt. berfirman:

Katakanlah kepada kaum pria yang beriman, bahwa hendaknya menundukkan pandangan matanya dan menjaga kehormatannya. (QS Al-Nur [24]: 30)

********************************************************************************

"Mata adalah pancaran hati dan cerminan akal; karena itu tundukkanlah pandanganmu dari apa pun yang tidak disukai oleh hatimu dan dari apa pun yang dianggap oleh akalmu tidak patut,"


********************************************************************************

Nabi Isa a.s. berkata kepada murid-muridnya, "Waspadalah untuk tidak melihat hal-hal yang dilarang, sebab itu merupakan benih nafsu dan menuntun kepada perilaku yang menympang."

Seorang bijak berkata,"Aku lebih memilih kematian daripada memandang sesuatu yang tidak perlu."

'Abdullah ibn Mas'ud berkata kepada seorang pria yang telah mengunjungi seorang wanita pada saat wanita itu sakit,"Akan lebih baik bagimu untuk kehilangan matamu daripada mengunjungi wanita yang sakit itu."

Setiap kali mata melihat sesuatu yang dilarang, sesimpul nafsu diikatkan pada hati orang tersebut, dan simpul itu hanya dapat dilepaskan melalui salah satu dari dua syarat ini: dengan menangisi dan menyesalinya dalam tobat yang sungguh-sungguh, atau dengan memiliki apa yang dihasratkannya dan dilihatnya. Dan jika seseorang memilikinya dengan cara yang tidak adil, tanpa tobat, maka hal itu membawanya kepada Api (neraka). Sedangkan bagi orang yang bertobat darinya dengan penuh kesedihan dan penyesalan, tempatnya adalah di dalam taman syurga (raudhah al-jannah) dan dia menjadi kesayangan Allah.[]